Filed under: Uncategorized
Salah seorang penulis favorit saya pernah menulis, bahwa hidup manusia akan berada pada keagungan jika telah melalui 2 hal. Yang pertama jika dia mampu mendeteksi dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh umat manusia di sekitarnya. Kemudian dia juga mengetahui apa saja yang dimilikinya yang bisa dia berikan dan bermanfaat bagi masyarakatnya. Dengan suara hati yang tepat dua hal di atas akan terjalin, dan dia akan mampu memberikan anugerah Tuhan yang ada padanya untuk kebaikan umat manusia.
Jika Anda pernah membaca buku yang sangat laris “ Three Cups of Tea”, anda akan menemukan hal-hal di atas pada diri Greg Mortenson. Dia adalah seorang pendaki gunung berkebangsaan Amerika yang berambisi untuk menaklukan K2 Karakoram, puncak tertinggi kedua di dunia yang terletak di utara Pakistan. Pada suatu usaha penaklukan K2, Greg gagal dan malah berakhir tersesat di Korphe, desa terakhir menuju puncak Karakoram. Di sana dia kehilangan arah, terseok-seok kehabisan tenaga hingga akhirnya ditolong oleh warga desa Korphe.
Secara empatik, Greg prihatin melihat betapa miskinnya desa yang terletak di distrik Skardu itu. Bukankah distrik ini (tepatnya di Lembah Hunza distrik Skardu) diyakini telah menjadi ilham bagi James Hilton untuk membuat gambaran imajiner “Shangri La” dalam novelnya The Lost Horizon? Akan tetapi di sana penduduk yang berasal dari etnis Baltik ini hidup jauh dari sentuhan abad dua puluh. Mereka hidup tanpa aspal, kendaraan bermotor, pesawat telepon, dan televisi. Tingkat kesehatan tentu saja sangat rendah, apalagi pendidikan. Pada suatu kesempatan Greg diajak kepala desa untuk melihat sebuah sekolah desa yang ternyata berlantai tanah, dengan hawa dingin yang menusuk (ini puncak Himalaya bung!), di mana anak-anak yang belajar duduk khidmat tanpa buku dan alat tulis yang seadanya. Tersentuh dengan pemandangan yang dilihatnya, Greg berjanji pada kepala desa Korphe, “Saya akan mendirikan sekolah untuk desa ini”.
Sampai disini Greg Mortenson telah berhasil men-sense dan mendetect apa yang dibutuhkan orang-orang yang telah menyelamatkannya di Khorpe. Dia telah melewati tahap pertama untuk mencapai “greatness” dalam hidupnya. Akan tetapi dia belum memiliki hal kedua. Dia tidak mempunyai sesuatu yang dapat mewujudkan hal-hal yang dibutuhkan warga Korphe. Selain sebagai seorang pendaki, dia hanya seorang perawat biasa yang bergaji kecil. Meskipun dia sudah hidup hemat – bahkan dengan menjadikan mobilnya sebagai rumahnya, tetap saja dia tidak punya dana yang cukup untuk mendirikan sekolah itu.
Tapi Greg terus berusaha. Lima ratus delapan puluh surat ia kirimkan ke berbagai yayasan dan perorangan. Ada beberapa balasan yang mendukung dengan sumbangan yang kecil, namun lebih banyak balasan suratnya berisi penolakan-penolakan yang dapat menyurutkan tekadnya. Langkah pertama justru terjadi dari murid-murid sekolah tempat ibu Greg mengajar. Setelah presentasi dari Greg, anak-anak sekolah di River Falls Wisconsin itu secara spontan mengumpulkan “Pennies for Pakistan” hingga mampu menghimpun dana $623. Meskipun jauh dari $12 000 yang merupakan biaya untuk mendirikan satu sekolah, setidaknya sumbangan itu membangkitkan tekadnya. Semakin lama, dia makin dekat pada janjinya kepada penduduk Korphe. Dan memang pepatah “when there is a will, there is a way”menunjukkan kebenarannya. Pada suatu saat, seorang ilmuwan jutawan yang pernah mendaki Karakoram membaca tentang usaha Greg untuk mendirikan sekolah di desa tertinggi sebelum puncak karakoram. Dan dia memberikan semua dana untuk mewujudkan sekolah Greg yang pertama itu.
Hal kedua untuk mencapai “greatness” dalam hidupnya juga tidak datang dengan mudah. Usaha untuk mendirikan sekolah pertamanya mengajarkan pada Greg bahwa berbekal uang saja tidak cukup untuk mendirikan sekolah disana. Banyak rintangan yang harus dihadapi dari mulai kondisi geografis, konflik kepentingan, hingga konflik-konflik politik local. Melewati semua rintangan itu makin melengkapi Greg dengan hal kedua. Dia makin mengetahui kehidupan orang-orang di himalaya sana dengan semua adat kebiasaan etnis-etnisnya, menguasai kondisi geografis, dan mampu membawa dirinya dengan baik menghadapi konflik politik local. Seiring bergulirnya waktu, dukungan dana juga mengalir hingga Greg mampu mewujudkan sekolah-sekolah berikutnya. Di bawah bendera Central Asia Institue yang dipimpinnya pada satu dekade berikutnya, Greg berhasil mendirikan 51 buah sekolah yang kurikulumnya diserahkan kepada masyarakat setempat.
Kelihatan terang benderang bagi saya bahwa memberikan apa yang kita punya kepada umat manusia di sekitar kita adalah suatu keharusan. Bukankah semua apa yang dikaruniakan Tuhan pada kita akan ditagih-Nya pertanggungjawaban kita kelak? Kita gunakan untuk apa karunia itu? Menggunakannya untuk membantu mahluk-mahluk Tuhan yang lain merupakan jawaban yang baik bagi saya. Dan bagaimana kita memulainya? Sebuah magic words dari seseorang yang saya kagumi akan terdengar melegakan. “Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal-hal yang kecil, dan mulailah dari sekarang”. Mari berlomba-lomba menuju kebaikan….
Wallahu alam…
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>