Filed under: Uncategorized
Sesungguhnya tidak ada yang benar-benar berubah di kampung itu. Langgar tua itu masih bertengger kokoh di sana. Usianya yang hampir 1 abad tidak membuatnya tampak rusak ataupun kumuh. Cat hijau yang dari 20an tahun lalu selalu dipertahankan oleh para pengurusnya sekarang diganti putih. Pagar luarnya dulu setengah tembok setengah batako. Namun sekarang batakonya digantikan dengan pagar besi. Lantainya yang dulu tegel biasa sekarang telah diganti keramik. Dua buah bagian yang menyerupai menara di barat daya dan barat laut masih terlihat kukuh dan gagah, sama seperti ketika 20 tahun lalu saat Aku dan teman-teman masa kecilku sering bermain petak umpet disitu.
Kentongan berwarna hijau masih terpasang di sudut yang sama. Entah sudah berapa puluh tahun kentongan itu tergantung di sana. Terbuat dari kayu gelugu yang cukup baik, suaranya masih nyaring terdengar setiap menjelang azan maupun iqamat. Bagian yang ditabuh memang sudah makin keropos karena banyak yang mengelupas. Namun seperti 20 tahun lalu, kentongan itu masih cukup menarik buat anak-anak. Dulu setiap salat lima waktu, kami selalu berebut untuk menabuh kentongan itu. Tak jarang anak yang pertama datang ke langgar langsung menyembunyikan kayu pemukul kentongan itu. Setelah menabuh untuk azan dan iqamat, senyum biasanya terulas di wajah kami. Sekarangpun masih demikian adanya.
Entah mengapa langgar tua itu selalu menjadi pusat kehidupan anak-anak di sekitarnya. Kami dulu sangat bangga disebut sebagai “bocah langgar”. Tiap hari Kami habiskan waktu salat, bermain, mengaji, dan lain lain di langgar itu. Halamannya yang luas sering kita pakai bermain apa saja. Kelereng, kejar-kejaran, bermain sepeda, gelatik dan lain sebagainya. Hawanya yang sejuk karena banyak angin dari pohon mangga yang ada di halaman membuat Kami betah untuk berlama-lama tinggal di dalamnya. Bahkan untuk sekedar ngobrol menunggu waktu dari satu salat ke salat berikutnya.
Sesungguhnya aku tidak banyak melihat perubahan benar-benar terjadi pada langgar itu. Semangat warga sekitarnya untuk memakmurkannya masih begitu terasa. Semangat yang sederhana penuh dengan kebersamaan. Semangat untuk selalu melestarikan bangunan tua itu, memperbaiki sisi-sisi yang kurang dan mengisinya dengan ruh kegiatan. Mungkin demikian juga yang dirasakan pada tahun 1906 ketika langgar ini pertama kali dibangun oleh nenek moyang kami penduduk kampung itu. Tidak ada yang benar-benar berubah disana…
—– 000 —–
Konon di zaman yang berubah sangat cepat ini, banyak manusia yang menjadi frustasi. Tantangan terus berubah, bahkan kecepatan perubahan itu makin lama makin cepat. Seperti kata seorang pakar manajemen “ We live in a constant, churning, changing environment.”. Dan konon pula strategi untuk menghadapi perubahan yang kian cepat adalah dengan menyadari bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang tetap, dan tidak berubah. “In turbulent white water, every single person must have something inside them that guide their decisions”. Yaitu nilai-nilai hidup kita, dan Apa yang menjadi pusat hidup kita. Yang selalu membimbing kita untuk membedakan yang benar dan yang salah maupun yang baik dan yang buruk. Juga kesadaran tentang dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.
—- 000 —-
Memandang kembali langgar tua itu, aku bersyukur atas kenangan indah yang diberikannya padaku. Kenangan tentang masa kecilku, kenangan tentang kampung halamanku…
It has written in my soul..
I’ve made a promise
To never loose sight of
The dream that leads me home
And this much I know
(Yanni, The Promise)
Wallhu alam…
Note :
Tulisan terpaksa dimodifikasi pada detik-detik terakhir karena adanya pesanan seorang teman yang meninginkan tulisan tentang keindahan. Semoga nggak terlalu rusak-rusak amat :p.
3 Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
beautiful writing. mengobati kening yang dari pagi tadi berkerenyit. thanks sudah mengantar pesanan lebih cepat dari yang aku pikir…:p (kapan2 pesen lagi yah)
lia 09.06.06 @ 10:48 pmAss.
oelist 07.30.07 @ 1:46 amPa kabar ms bobi? ni endang……… he….he…. langgarnya manbaul iman y?
masa lalu emg indah tuk dikenang tp ko q pengen nya melupakan semua yg pernah terjadi. berharap q g prnh mengalami semua itu
oelist 07.30.07 @ 1:48 am