Cakrawala


berlayar ke hulu
April 21, 2009, 8:57 pm
Filed under: Uncategorized

Sesekali putarlah haluanmu
Berlayarlah jauh ke hulu
Simpan saja jam pasirmu
Karena waktu
Hanyalah misteri Tuhan jua yang tahu

Sesekali berlayarlah jauh ke hulu
Jejakkan lagi kakimu
Ke dermaga-dermaga tempat kau pernah buang sauhmu
Sesaplah pahit asinnya udara, riang murungnya mentari
Dan gemerlap warna-warni irama kotanya.

Hisaplah semua lalu tanyakan
Kemana arah perjalananmu

Sesekali berlayarlah jauh ke hulu
Nikmati ruang, biarkanlah waktu
Dengarkan lalu nyanyikan
“What a wonderful world”

Cikampek, 22 April 2009



Three Cups of Tea
March 15, 2009, 8:38 pm
Filed under: Uncategorized

Salah seorang penulis favorit saya pernah menulis, bahwa hidup manusia akan berada pada keagungan jika telah melalui 2 hal. Yang pertama jika dia mampu mendeteksi dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh umat manusia di sekitarnya. Kemudian dia juga mengetahui apa saja yang dimilikinya yang bisa dia berikan dan bermanfaat bagi masyarakatnya. Dengan suara hati yang tepat dua hal di atas akan terjalin, dan dia akan mampu memberikan anugerah Tuhan yang ada padanya untuk kebaikan umat manusia.

Jika Anda pernah membaca buku yang sangat laris “ Three Cups of Tea”, anda akan menemukan hal-hal di atas pada diri Greg Mortenson. Dia adalah seorang pendaki gunung berkebangsaan Amerika yang berambisi untuk menaklukan K2 Karakoram, puncak tertinggi kedua di dunia yang terletak di utara Pakistan. Pada suatu usaha penaklukan K2, Greg gagal dan malah berakhir tersesat di Korphe, desa terakhir menuju puncak Karakoram. Di sana dia kehilangan arah, terseok-seok kehabisan tenaga hingga akhirnya ditolong oleh warga desa Korphe.

Secara empatik, Greg prihatin melihat betapa miskinnya desa yang terletak di distrik Skardu itu. Bukankah distrik ini (tepatnya di Lembah Hunza distrik Skardu) diyakini telah menjadi ilham bagi James Hilton untuk membuat gambaran imajiner “Shangri La” dalam novelnya The Lost Horizon? Akan tetapi di sana penduduk yang berasal dari etnis Baltik ini hidup jauh dari sentuhan abad dua puluh. Mereka hidup tanpa aspal, kendaraan bermotor, pesawat telepon, dan televisi. Tingkat kesehatan tentu saja sangat rendah, apalagi pendidikan. Pada suatu kesempatan Greg diajak kepala desa untuk melihat sebuah sekolah desa yang ternyata berlantai tanah, dengan hawa dingin yang menusuk (ini puncak Himalaya bung!), di mana anak-anak yang belajar duduk khidmat tanpa buku dan alat tulis yang seadanya. Tersentuh dengan pemandangan yang dilihatnya, Greg berjanji pada kepala desa Korphe, “Saya akan mendirikan sekolah untuk desa ini”.

Sampai disini Greg Mortenson telah berhasil men-sense dan mendetect apa yang dibutuhkan orang-orang yang telah menyelamatkannya di Khorpe. Dia telah melewati tahap pertama untuk mencapai “greatness” dalam hidupnya. Akan tetapi dia belum memiliki hal kedua. Dia tidak mempunyai sesuatu yang dapat mewujudkan hal-hal yang dibutuhkan warga Korphe. Selain sebagai seorang pendaki, dia hanya seorang perawat biasa yang bergaji kecil. Meskipun dia sudah hidup hemat – bahkan dengan menjadikan mobilnya sebagai rumahnya, tetap saja dia tidak punya dana yang cukup untuk mendirikan sekolah itu.

Tapi Greg terus berusaha. Lima ratus delapan puluh surat ia kirimkan ke berbagai yayasan dan perorangan. Ada beberapa balasan yang mendukung dengan sumbangan yang kecil, namun lebih banyak balasan suratnya berisi penolakan-penolakan yang dapat menyurutkan tekadnya. Langkah pertama justru terjadi dari murid-murid sekolah tempat ibu Greg mengajar. Setelah presentasi dari Greg, anak-anak sekolah di River Falls Wisconsin itu secara spontan mengumpulkan “Pennies for Pakistan” hingga mampu menghimpun dana $623. Meskipun jauh dari $12 000 yang merupakan biaya untuk mendirikan satu sekolah, setidaknya sumbangan itu membangkitkan tekadnya. Semakin lama, dia makin dekat pada janjinya kepada penduduk Korphe. Dan memang pepatah “when there is a will, there is a way”menunjukkan kebenarannya. Pada suatu saat, seorang ilmuwan jutawan yang pernah mendaki Karakoram membaca tentang usaha Greg untuk mendirikan sekolah di desa tertinggi sebelum puncak karakoram. Dan dia memberikan semua dana untuk mewujudkan sekolah Greg yang pertama itu.

Hal kedua untuk mencapai “greatness” dalam hidupnya juga tidak datang dengan mudah. Usaha untuk mendirikan sekolah pertamanya mengajarkan pada Greg bahwa berbekal uang saja tidak cukup untuk mendirikan sekolah disana. Banyak rintangan yang harus dihadapi dari mulai kondisi geografis, konflik kepentingan, hingga konflik-konflik politik local. Melewati semua rintangan itu makin melengkapi Greg dengan hal kedua. Dia makin mengetahui kehidupan orang-orang di himalaya sana dengan semua adat kebiasaan etnis-etnisnya, menguasai kondisi geografis, dan mampu membawa dirinya dengan baik menghadapi konflik politik local. Seiring bergulirnya waktu, dukungan dana juga mengalir hingga Greg mampu mewujudkan sekolah-sekolah berikutnya. Di bawah bendera Central Asia Institue yang dipimpinnya pada satu dekade berikutnya, Greg berhasil mendirikan 51 buah sekolah yang kurikulumnya diserahkan kepada masyarakat setempat.

Kelihatan terang benderang bagi saya bahwa memberikan apa yang kita punya kepada umat manusia di sekitar kita adalah suatu keharusan. Bukankah semua apa yang dikaruniakan Tuhan pada kita akan ditagih-Nya pertanggungjawaban kita kelak? Kita gunakan untuk apa karunia itu? Menggunakannya untuk membantu mahluk-mahluk Tuhan yang lain merupakan jawaban yang baik bagi saya. Dan bagaimana kita memulainya? Sebuah magic words dari seseorang yang saya kagumi akan terdengar melegakan. “Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal-hal yang kecil, dan mulailah dari sekarang”. Mari berlomba-lomba menuju kebaikan….

Wallahu alam…



Discipline
August 1, 2008, 6:34 pm
Filed under: Uncategorized

Images2

Talent without discipline is like an octopus on roller skates. There’s plenty of movement, but you never know if it’s going to be forward, backwards, or sideways.

H. Jackson Brown, Jr.

Mastering others is strength. Mastering yourself is true power."

Lao Tzu

Who has courage to say no again and again to desires, to despise the objects of ambition, who is a whole in himself, smoothed and rounded.

Quintus Horatius Flaccus Horace

Discipline is the bridge between goals and accomplishments.

Jim Rohn

In reading the lives of great men, I found that the first victory they won was over themselves… self-discipline with all of them came first.

Harry S. Truman

No steam or gas drives anything until it is confined. No life ever grows great until it is focused, dedicated, disciplined.

Harry Emerson Fosdick D.D

With self-discipline most anything is possible.

Theodore Roosevelt


Discipline is the soul of an army. It makes small numbers formidable, procures success to the weak, and esteem to all.

George Washington

Take the pains required to become what you want to become, or you might end up becoming something you’d rather not be. That is also a daily discipline and worth considering.
Donald Trump

Age acquires no value save through thought and discipline. 

James Truslow Adams



adenium
July 11, 2008, 6:41 pm
Filed under: Uncategorized

Sahabat, apakah Anda seorang penikmat tanaman? Mengamati tanaman bisa membuat kita makin merasakan kebesaran Tuhan. Tanaman yang biasa  kita anggap sebagai hiasan ternyata memiliki keajaiban yang mengagumkan. Adenium misalnya. Saat berhadapan dengan musim kemarau yang sangat ganas, daun-daun adenium akan rontok untuk mengurangi penguapan dan menghemat air. Setelah daun-daunnya rontok, kemudian muncullah bunga-bunga adenium, yang yang indah. Ini juga merupakan kiatnya untuk bertahan. Ketika panas kemarau mengancam hidupnya, dia keluarkan bunga-bunga yang cantik itu. Jika kemudian adenium itu makin lemah dan terancam, maka bunga-bunganya akan melahirkan buah dan dan dari buah itu, biji-bijian akan keluar. Dan tumbuhlah adenium-adenium baru sebagai gantinya.

Seringkali, Saya dan sahabat sedih memandang hidup ini. Kamalangan, penderitaan, tantangan datang silih berganti tak ada habisnya. Setiap hari berita media mengabarkan kemalangan sahabat-sahabat kita. Tetapi walau bagaimana, Tuhan Yang Maha Pengasih menciptakan kita dengan kemampuan yang luar biasa untuk mengatasi kompleksitas problem hidup. Semakin dewasa kita (makin kompleks masalahnya), maka makin meningkat pula kemampuan yang kita untuk mengatasinya. Kemampuan itu hanya ada di dalam diri kita. bukan di luar diri kita. Karena Tuhan menciptakan kita dari awal dalam “kesempurnaan”. Bukankah tidak ada yang dapat menyempurnakan hal-hal yang sudah “sempurna”?

Untuk dapat mengatasi segala masalah, kepedihan, dan penderitaan dalam hidup, rasanya kita harus melihat ke dalam diri kita, bukan keluar. Kita harus lebih mengenal diri kita. Kepedihan, penderitaan, sebenarnya adalah sinyal yang memberitahukan bagian dari diri kita yang tersumbat. Dengan mengetahui bagian mana yang tersumbat, maka kita bisa memaafkan diri kita. Memaafkan diri kita akan membuat otot-otot jiwa akan mulai menguat dan kemudian penderitaan lewat dengan damai. Setelah berbagai penderitaan itu kita lewati dengan damai, maka –seperti layaknya adenium yang mengeluarkan kecantikan bunganya-  keindahan akan muncul dari dalam diri kita. Seiring dengan kematangan yang kita tuai, maka keindahan dari makin mendekatnya keparipurnaanpun akan memancar.

Dsc00055



peran
May 9, 2008, 4:03 pm
Filed under: Uncategorized

Sebuah pistol ketika muncul dalam sebuah cerita, maka ia harus diletuskan. Ah, haruskah? Mungkin juga tidak. Pengarangnya bisa saja punya maksud yang berbeda. Mungkin dia muncul untuk mempertegas sebuah karakter. Seorang anggota polisi reaksi cepat, tanpa sebuah pistol, mungkin akan lebih terkesan seperti satpam atau polisi lalu lintas. Atau seorang perampok akan kelihatan lebih profesional jika dia menggunakan pistol dalam aksinya. Bahkan bisa jadi pistol itu untuk mempertegas kesan sangar suatu ruangan. Whatever lah!!! Yang jelas jika sebuah pistol muncul dalam sebuah cerita dia tidak muncul tanpa makna, tanpa tujuan. Dia memiliki peran yang telah diberikan oleh sang pengarang. Demikian juga benda-benda lain yang muncul dalam cerita itu. Laki-laki, perempuan, orang tua, anak kecil, harimau, gunung, pepohonan, laut, langit, kursi, meja, semua muncul dengan membawa peran masing-masing.

Hal yang sama juga dalam mahakarya agung Sang Mahapencipta. Semua tidak muncul dengan sia-sia. Semua unsur dalam alam semesta mempunyai peran yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Siapapun kita, dan apapun benda di sekitar kita memiliki makna dalam setiap kehadiran. Batu memiliki makna, pohon memiliki makna, kucing memiliki makna, maka Kita sebagai masterpiece Sang Mahapencipta memiliki makna. Maka berbahagialah, karena sekecil apapun kita fikir diri kita, tapi sesungguhnya kita muncul ke dunia ini dengan satu makna, satu peran. Dan dengan peran itu kita telah membuat perbedaan pada dunia tempat kita tinggal.



kala
April 22, 2008, 3:00 am
Filed under: Uncategorized

Cakrawala abu biru

Derai napas Memacu waktu

Haru kalbu

Cakrawala abu biru

Tiga bulir air yang mendetak

Satu satu Kawan berkelana membisu

Harmoni

Satu satu Kawan berkelana membisu

Cakrawala abu biru

Tertulis di buku catatanku

04/01/05



memori
April 22, 2008, 2:51 am
Filed under: Uncategorized

Jelas sudah tak ada satu mahluk pun di muka bumi ini yang mampu mengalahkannya. Siapa yang mampu manaklukan sesuatu yang telah membunuh waktu? Di hadapannya waktu bukanlah lagi suatu unsur.

Dia lah yang selalu menemani mereka yang menyesali jalannya lakon hidup ini. Dia hidup bersama dengan harapan, meniup angin surga bagi mereka yang terkurung dalam labirin waktu tanpa ruang. Yah tentu saja, karena dia lah labirin itu sendiri. Kehadirannya takkan pernah disadari, hingga kita tiba-tiba menangisi semua waktu yang tak pernah bisa kita hentikan. Labirin itu, tak pernah ada yang menembusnya hingga segala upaya kita untuk menemukannya hanyalah ketololan terbesar yang pernah ada. Dia lah yang akan menyapa kita.

Waktu telah dibuatnya beku, dan waktu yang menempatkannya pada singgasananya yang tersembunyi. Disana, dalam labirin itu. Kau bilang, waktulah yang membuatnya menjadi indah. Di hadapannya, waktu bukanlah lagi suatu unsur….



Be Present
February 12, 2007, 4:23 am
Filed under: Uncategorized

Be Present

Present Moment, wonderful moment.

Wahai betapa beratnya hidup ini, sahabat. Setiap hari dari pagi sampai malam kita selalu berkejaran. Dengan waktu, dengan mimpi, dengan kawan dan bahkan dengan diri sendiri. Katanya, sahabat, semua itu demi satu kata, “kebahagiaan”. Untuk kata itulah kita semua orang bekerja membanting tulang, berlomba untuk mencapai yang terbaik.

Baik sahabat, mari kita luangkanlah waktu sejenak. Marilah kita ambil jarak, dan mari kita pandang diri kita yang selalu berpacu.

Dan itulah kita. Kita ingin menghasilkan lebih banyak. Kita ingin lebih efisien. Demi efisiensi kita sering lakukan berbagai hal bersamaan. Makan sambil bekerja, belajar sambil menonton TV, dan lain sebagainya. Karena kita ingin menyelesaikan semua dengan cepat. Demi efisiensi waktu, prinsip ekonomi, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.

Lihat sahabat, kita berhasil memanfaatkan waktu dengan baik. Kita tidak membuang-buang waktu karena waktu adalah berharga. Kita berhasil melakukan dua kali lebih banyak pada waktu yang sama. Yah, meskipun dengan capek mental dan fisik yang datang mendera.

Tapi apa yang telah kita lakukan dengan waktu yang berhasil kita sisihkan. Mengapa kita harus membuangnya juga? Memanjakan nafsu konsumerisme, belanja berlebihan, menonton tv sampai malam, dan bahkan kita tidur seharian. Mengapa kita repot-repot menghemat waktu jika kita harus membuang sisa waktu kita juga?

Ada sebagian dari kita yang tersadar dan mengkritik. Kesadaran mulai muncul bahwa kita menjadi tereduksi seperti mesin.Dalam konsep industri modern, semua mesin dirancang untuk kecepatan. Sebuah mesin yang menghasilkan lebih banyak pada waktu yang sama bernilai lebih tinggi. Memakai konsep yang sama untuk kita manusia, hanya menyebabkan human values menjadi sub ordinat dari aspek-aspek ekonomi. Dan itulah sebabnya mengapa susah sekali  untuk bisa hidup berkonsentrasi di zaman ini. Susah sekali untuk berdiam diri, kita selalu gelisah. Kita gugup, sehingga kita harus selalu berbuat sesuatu dengan mulut dan tangan kita. Kita menjadi mahluk konsumtif yang siap menelan apa saja, entah film, makanan, atau pengetahuan.

Mungkin itu sebabnya kita jauh sekali dari perasaan damai. Konon seorang bijak berkata,  A central aspect is that to be attentive to whatever one does”. Memberikan perhatian penuh atas apa yang dilakukan saat ini, adalah aspek pusat latihan menjadi damai. Kalau makan, ya makan saja. Kalau mendengarkan musik ya mendengarkan musik saja. Melakukan setiap hal dengan konsentrasi adalah kuncinya. Karena kedamaian, katanya, adalah hidup disini dan saat ini. Be present, because present moment is wonderful moment! Jika berhasil melakukannya tidak akan ada lagi hantu masa lalu dan setan masa depan yang mengejar-ngejar. Karena masa lalu telah berlalu, baik atau buruk. Dan masa depan belumlah terjadi. Tidak ada gunanya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak nyata. Marilah lita nikmati hari ini. Karena hari ini yang demikian nyata akan menjadi abadi.



Henrik Larsson
November 7, 2006, 4:42 am
Filed under: Sports

18 Mei 2006 Henrik Larsson membuat dua assist penting yang mengantar kesuksesan Barcelona menjuarai Liga Champion.

Henrik Larsson adalah suatu fenomena unik di dunia sepak bola. Dia adalah contoh hidup dari prinsip perkembangan manusia. Dia mengawali karir dengan tidak terlalu istimewa. Dia adalah pemain yang cukup bagus, namun tidak ada klub-klub besar Eropa yang melirik dia pada awalnya. Dia hanya mampu untuk berkiprah di klub-klub seperti papan tengah seperti Glasgow Celtic dll. Namun kemampuannya terus berkembang. Bertambahnya usia tidak membuat dia berhenti untuk meng-improve kemampuannya dalam bersepak bola. Makin tua justru kemampuannya tidak makin menurun dan bahkan pada usia yang cukup tua, sekitar 36 tahun dia dilirik oleh Barcelona – sebuah klub elit Eropa - untuk bergabung.

Setelah bergabung dengan Barcelona di usianya yang sudah tua, dia memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Dua tahun bergabung dengan Barcelona dia mampu menghantarkan Barcelona untuk meraih dua gelar Liga Spanyol. Dan yang lebih fenomenal lagi, di pertandingan terakhirnya dengan Barcelona dia membuat dua assist yang berbuah gol untuk memenangkan Barecelona di final Liga Chanpion. Juara Liga Champion ini pun menjadi sesuatu yang penting uat Barcelona mengingat mereka baru pertama kali merebut juara tahun 1992.

Setelah puncak kesuksesan diraih Henrik Larsson pada puncak usianya (39 tahun), dia memutuskan untuk kembali ke Swedia, memberikan waktu untuk keluarganya. Langkahnya ini membuat dia menjadi pemain yang lain daripada yang lain. Di saat banyak pemain yang muncul pada usia muda dengan talenta yang luar biasa, namun by the time makin bertambah usia prestasi mereka makin tenggelam, Henrik Larsson justru sebaliknya. Makin tua karirnya justru makin melesat. Dan di saat sebagian besar pemain bintang mabok kesuksesan (terus berusaha meraih kesuksesan walaupun mereka tahu bahwa sinarnya meredup), Larsson justru tahu kapan untuk berhenti dan menikmati kenangan indah yang akan dikenangnya seumur hidup. Kenangan tentang perjuangannya, kenangan tentang prestasinya.



Nothing Has Changed…
September 6, 2006, 11:08 am
Filed under: Uncategorized

Sesungguhnya tidak ada yang benar-benar berubah di kampung itu. Langgar tua itu masih bertengger kokoh di sana. Usianya yang hampir 1 abad tidak membuatnya tampak rusak ataupun kumuh. Cat hijau yang dari 20an tahun lalu selalu dipertahankan oleh para pengurusnya sekarang diganti putih. Pagar luarnya dulu setengah tembok setengah batako. Namun sekarang batakonya digantikan dengan pagar besi. Lantainya yang dulu tegel biasa sekarang telah diganti keramik. Dua buah bagian yang menyerupai menara di barat daya dan barat laut masih terlihat kukuh dan gagah, sama seperti ketika 20 tahun lalu saat Aku dan teman-teman masa kecilku sering bermain petak umpet disitu.

Kentongan berwarna hijau masih terpasang di sudut yang sama. Entah sudah berapa puluh tahun kentongan itu tergantung di sana. Terbuat dari kayu gelugu yang cukup baik, suaranya masih nyaring terdengar setiap menjelang azan maupun iqamat. Bagian yang ditabuh memang sudah makin keropos karena banyak yang mengelupas. Namun seperti 20 tahun lalu, kentongan itu masih cukup menarik buat anak-anak. Dulu setiap salat lima waktu, kami selalu berebut untuk menabuh kentongan itu. Tak jarang anak yang pertama datang ke langgar langsung menyembunyikan kayu pemukul kentongan itu. Setelah menabuh untuk azan dan iqamat, senyum biasanya terulas di wajah kami. Sekarangpun masih demikian adanya.

Entah mengapa langgar tua itu selalu menjadi pusat kehidupan anak-anak di sekitarnya. Kami dulu sangat bangga disebut sebagai “bocah langgar”. Tiap hari Kami habiskan waktu salat, bermain, mengaji, dan lain lain di langgar itu. Halamannya yang luas sering kita pakai bermain apa saja. Kelereng, kejar-kejaran, bermain sepeda, gelatik dan lain sebagainya. Hawanya yang sejuk karena banyak angin dari pohon mangga yang ada di halaman membuat Kami betah untuk berlama-lama tinggal di dalamnya. Bahkan untuk sekedar ngobrol menunggu waktu dari satu salat ke salat berikutnya.

Sesungguhnya aku tidak banyak melihat perubahan benar-benar terjadi pada langgar itu. Semangat warga sekitarnya untuk memakmurkannya masih begitu terasa. Semangat yang sederhana penuh dengan kebersamaan. Semangat untuk selalu melestarikan bangunan tua itu, memperbaiki sisi-sisi yang kurang dan mengisinya dengan ruh kegiatan. Mungkin demikian juga yang dirasakan pada tahun 1906 ketika langgar ini pertama kali dibangun oleh nenek moyang kami penduduk kampung itu. Tidak ada yang benar-benar berubah disana…

                                           —– 000 —–

Konon di zaman yang berubah sangat cepat ini, banyak manusia yang menjadi frustasi. Tantangan terus berubah, bahkan kecepatan perubahan itu makin lama makin cepat. Seperti kata seorang pakar manajemen “ We live in a constant, churning, changing environment.”. Dan konon pula strategi untuk menghadapi perubahan yang kian cepat adalah dengan menyadari bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang tetap, dan tidak berubah. “In turbulent white water, every single person must have something inside them that guide their decisions”. Yaitu nilai-nilai hidup kita, dan Apa yang menjadi  pusat hidup kita. Yang selalu membimbing kita untuk membedakan yang benar dan yang salah maupun yang baik dan yang buruk. Juga kesadaran tentang dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.

                                        —- 000 —-

Memandang kembali langgar tua itu, aku bersyukur atas kenangan indah yang diberikannya padaku. Kenangan tentang masa kecilku, kenangan tentang kampung halamanku…

It has written in my soul..

I’ve made a promise

To never loose sight of

The dream that leads me home

And this much I know

(Yanni, The Promise)

Wallhu alam…

Note :

Tulisan terpaksa dimodifikasi pada detik-detik terakhir karena adanya pesanan seorang teman yang meninginkan tulisan tentang keindahan. Semoga nggak terlalu rusak-rusak amat :p.